7 Cerita Aurelie Moeremans rilis buku Broken Strings, ungkap fakta grooming usia 15 tahun
  1. Home
  2. »
  3. Selebritis
12 Januari 2026 13:10

7 Cerita Aurelie Moeremans rilis buku Broken Strings, ungkap fakta grooming usia 15 tahun

Buku ini bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah misi untuk berdamai dengan masa lalu. Agustin Wahyuningsih
foto: Instagram/@aurelie

Brilio.net - Aktris Aurelie Moeremans baru-baru ini mengejutkan publik dengan keberaniannya membuka lembaran paling kelam dalam hidupnya. Melalui sebuah buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, istri dari Tyler Bigenho ini menceritakan secara jujur pengalaman pahitnya menjadi korban grooming dan hubungan tidak sehat yang ia alami sejak usia 15 tahun.

Selama bertahun-tahun, Aurelie memilih untuk menyimpan rapat kisah ini. Namun, tekanan emosional, manipulasi, dan pengalaman traumatis yang ia lalui akhirnya mendorongnya untuk menuangkan cerita tersebut ke dalam sebuah karya tulis. Buku ini bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah misi untuk berdamai dengan masa lalu dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya relasi kuasa yang menyimpang.

BACA JUGA :
Kini tinggal bareng suami di Amerika Serikat, intip 9 potret dapur rumah Aurelie Moeremans


Berikut adalah 7 fakta mendalam mengenai pengakuan Aurelie Moeremans dalam bukunya dikutip brilio.net dari KapanLagi dan Instagram @aurelie, Senin (12/1).

1. Terjebak Relasi Manipulatif di Usia 15 Tahun

Broken Strings Aurelie Moeremans
foto: Instagram/@aurelie

BACA JUGA :
9 Potret gender reveal anak pertama Aurelie Moeremans dan Tyler Bigenho, konsepnya sederhana tapi unik

Dalam bukunya, Aurelie mengisahkan bagaimana ia terjebak dalam hubungan dengan seorang pria yang jauh lebih dewasa. Saat itu, ia masih berusia 15 tahun, sementara pria yang ia sebut dengan nama samaran "Bobby" tersebut sudah berusia 29 tahun. Perbedaan usia yang signifikan ini menjadi dasar terjadinya praktik grooming.

2. Pengakuan Terbuka Melalui Media Sosial

Melalui unggahan di media sosialnya pada awal Januari 2026, Aurelie menegaskan bahwa buku ini adalah kisah nyata. Ia secara gamblang menyebutkan bahwa dirinya adalah korban grooming oleh seseorang yang usianya hampir dua kali lipat darinya saat ia masih di bawah umur.

3. Perubahan Pola Hubungan dari Manis Menjadi Kontrol Psikologis

Aurelie menjelaskan bahwa hubungan tersebut awalnya terasa manis. Namun, seiring berjalannya waktu, situasi berubah menjadi tekanan emosional yang berat. Sebagai remaja, ia mengaku belum memiliki pemahaman yang cukup untuk menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi dan dimanfaatkan.

4. Menulis Sebagai Media Penyembuhan (Self-Healing)

Broken Strings Aurelie Moeremans
foto: Instagram/@aurelie

Meskipun meninggalkan luka mendalam, Aurelie memilih untuk tidak terpuruk. Menulis buku Broken Strings diakuinya sebagai proses untuk berdamai dengan masa lalu. Ini adalah upaya nyata untuk merebut kembali "suara" yang sempat hilang selama bertahun-tahun akibat kontrol orang lain.

5. Mendapat Respons Positif dari Penyintas Kekerasan Emosional

Sejak dirilis, buku ini mendapatkan apresiasi luas. Banyak pembaca, terutama mereka yang juga penyintas kekerasan emosional dan grooming, merasa dikuatkan oleh keberanian Aurelie. Buku ini dianggap berhasil membuka mata masyarakat mengenai tanda-tanda relasi tidak sehat yang sering kali sulit dikenali.

6. Menghadapi Ancaman dan Fitnah Pasca Penerbitan

Broken Strings Aurelie Moeremans
foto: Instagram/@aurelie

Langkah berani Aurelie bukannya tanpa rintangan. Aktris yang kini tengah hamil ini mengungkap bahwa kawan-kawan sesama artis yang merepost buku tersebut di akun media sosial masing-masing juga sempat menerima ancaman dan fitnah. Karena alasan keamanan pula, Aurelie memutuskan untuk berhenti me-repost dukungan dari rekan artis, seperti Hesti Purwadinata, guna melindungi mereka dari ancaman pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Alasan kenapa sudah gak repost story dukungan, bahkan dari teman sendiri atau rekan artis, sederhana tapi penting.

Aku pernah repost story Teh Hesti. Setelah itu, sampai sekarang, Teh Hesti dan suaminya masih terus diancam. Dari DM, sampai ke WhatsApp.

Tentu tidak digubris. Tapi tetap saja, itu ganggu. Dan aku tidak enak.

Kalau aku yang diancam, aku bisa terima. Tapi kalau sampai orang lain ikut kena hanya karena berdiri di sampingku, itu berat,” tulis Aurelie dalam Instagram Stories, Minggu (11/1).

7. Mengapresiasi Perubahan Kesadaran Masyarakat Indonesia

Broken Strings Aurelie Moeremans
foto: Instagram/@aurelie

Aurelie mengungkapkan rasa syukurnya melihat perkembangan pola pikir masyarakat Indonesia saat ini. Berbeda dengan pengalamannya di masa muda saat suara korban sering disalahkan, kini ia melihat lebih banyak empati dan pemahaman mengenai isu grooming serta relasi kuasa. Baginya, ini adalah tanda bahwa Indonesia sedang berjalan ke arah yang benar dalam melindungi korban.

“Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang.

Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, suara korban sering tenggelam, disalahkan, atau dipelintir. Banyak hal penting justru luput dari perhatian.

Hari ini, aku melihat perubahan itu.

Lebih banyak kesadaran tentang grooming.

Lebih paham soal relasi kuasa.

Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman.

Perubahan ini penting, Dan nyata.

Walaupun jalannya panjang, dan datangnya tidak cepat, aku tetap bersyukur bisa hidup di masa di mana cerita seperti ini akhirnya didengar dengan lebih utuh.

Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” jelasnya dalam unggahan Instagram Stories, Senin (12/1).

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apa yang dimaksud dengan grooming pada remaja seperti yang dialami Aurelie?

Grooming adalah upaya seseorang untuk membangun ikatan emosional dengan anak atau remaja demi tujuan eksploitasi, sering kali melibatkan manipulasi dan penyalahgunaan kepercayaan dalam jangka waktu tertentu.

2. Mengapa korban grooming sering kali baru berani bicara bertahun-tahun kemudian?

Trauma psikologis, rasa takut akan ancaman, serta minimnya dukungan sosial di masa lalu sering kali membuat korban merasa tidak aman untuk bersuara. Proses pemulihan memerlukan waktu yang panjang sebelum korban merasa siap secara emosional.

3. Bagaimana cara mendapatkan buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans?

Buku tersebut saat ini sudah tersedia secara resmi dan akses pembeliannya dapat ditemukan melalui tautan (link) yang tertera pada profil bio Instagram pribadi Aurelie Moeremans.

4. Apa saja ciri-ciri relasi kuasa yang tidak sehat dalam sebuah hubungan?

Biasanya ditandai dengan adanya ketimpangan posisi (misal: usia atau status), adanya kontrol ketat terhadap aktivitas pasangan, isolasi dari lingkungan sosial, hingga penggunaan ancaman atau manipulasi emosional untuk mengatur perilaku korban.

5. Mengapa memberikan dukungan kepada penyintas sangat penting dalam kasus seperti ini?

Dukungan publik membantu mengurangi stigma "menyalahkan korban" (victim blaming) dan memberikan rasa aman bagi penyintas lainnya untuk mencari bantuan atau memproses trauma mereka tanpa rasa malu.

SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags