Momen Kepala BGN cicipi menu makan bergizi gratis, sebut kualitasnya profesional
  1. Home
  2. ยป
  3. Serius
24 Februari 2026 12:53

Momen Kepala BGN cicipi menu makan bergizi gratis, sebut kualitasnya profesional

Menu yang dipatok dengan indeks harga Rp10.000 per porsi ini dinilai sudah memenuhi standar gizi seimbang dan memiliki cita rasa yang sangat baik Agustin Wahyuningsih
foto: Instagram/@apdianutama

Brilio.net - Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mendapatkan perhatian publik. Baru-baru ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melakukan peninjauan langsung sekaligus mencicipi menu yang disediakan di Pondok Pesantren Al-Furqon Modern An-Nur, Gresik.

BACA JUGA :
9 Momen Presiden Prabowo tinjau teknologi SPPG baru, cicipi menu MBG langsung


foto: bgn.go.id

Dalam kesempatan kunjungan serta buka bersama pada 19 Februari 2026 lalu itu, kualitas masakan yang disajikan mendapatkan apresiasi positif dari Kepala BGN. Menu yang dipatok dengan indeks harga Rp10.000 per porsi ini dinilai sudah memenuhi standar gizi seimbang dan memiliki cita rasa yang sangat baik.

BACA JUGA :
Bukan makanan berat siap santap, ini bocoran isi MBG untuk siswa sekolah selama bulan puasa

foto: bgn.go.id

Daftar Komposisi Menu Seharga Rp10.000

Meskipun memiliki anggaran yang efisien, komponen makanan yang dihidangkan tergolong sangat lengkap. Berikut adalah rincian menu yang disajikan dalam program tersebut:

1. Karbohidrat: Nasi putih sebagai sumber energi utama.
2. Protein Hewani: Daging ayam yang diolah dengan bumbu pilihan.
3. Protein Nabati: Tahu, yang dalam ulasannya disebut memiliki rasa yang sangat enak.
4. Sayuran: Urap sayur yang segar.
5. Buah-buahan: Kombinasi buah kurma dan pisang.
6. Minuman Tambahan: Susu kemasan untuk melengkapi kebutuhan gizi.

Testimoni Langsung Kepala BGN

foto: Instagram/@apdianutama

Dadan Hindayana memberikan ulasan positif terhadap kualitas hidangan tersebut. Ia menekankan bahwa komposisi makanan tersebut sudah mencakup unsur gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam satu kali waktu makan.

"Ini makanannya lengkap. Ada protein hewani ayam, ada tahu tadi... sudah habis karena tahunya enak. Ada urap, urapnya juga enak sekali. Ini seperti masakan profesional. Ada nasi, ada kurma, ada pisang, dan ada susu. Ini gizi seimbang. Dan ini indeksnya Rp10.000," ujar Pak Dadan dalam sesi peninjauan tersebut, dikutip brilio.net dari Instagram @apdianutama, Selasa (24/2/2026).

Pernyataan senada juga datang dari narasumber lain di lokasi yang menyoroti efisiensi biaya program ini dibandingkan dengan harga pasar secara umum.

"Kalau di luar nggak ada Pak Dadan, Rp10.000 di luar nggak ada," tambah salah satu narasumber yang hadir.

FAQ MBG

1. Mengapa menu Makan Bergizi Gratis menyertakan buah kurma?

Kurma merupakan sumber serat dan energi cepat (glukosa alami) yang sangat baik. Penggunaan kurma di lingkungan pesantren juga selaras dengan budaya lokal dan memberikan tambahan mikronutrien seperti kalium dan magnesium yang jarang ditemukan di buah lain secara instan.

2. Apakah standar harga Rp10.000 ini berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia?

Indeks harga Rp10.000 merupakan salah satu simulasi anggaran di wilayah tertentu seperti Jawa Timur. Secara teknis, Badan Gizi Nasional akan menyesuaikan indeks biaya berdasarkan harga bahan baku di masing-masing daerah guna menjaga standar kualitas gizi yang sama.

3. Bagaimana cara memastikan kebersihan (higienitas) pada masakan "profesional" tersebut?

Setiap unit penyedia makanan dalam program MBG diwajibkan mengikuti standar keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku segar, proses pengolahan yang bersih, hingga pengemasan yang aman sebelum dikonsumsi oleh siswa atau santri.

4. Apakah menu MBG bisa diganti dengan protein lain seperti sapi atau ikan lele?

Tentu saja. Menu bersifat fleksibel dan berbasis komoditas lokal. Sapi, ikan lele, atau telur dapat digunakan sebagai sumber protein hewani selama memenuhi standar kalori dan gizi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

5. Siapa yang bertanggung jawab memasak menu di Pondok Pesantren tersebut?

Dalam pelaksanaannya, program ini sering kali melibatkan dapur satuan pelayanan atau unit pelayanan gizi setempat yang bekerja sama dengan pihak sekolah atau pesantren, guna memastikan distribusi makanan tetap hangat dan tepat waktu.


SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags