Pesan parenting ibu Nadiem Makarim “Perempuan jangan pikirin menikah sebelum 30 tahun”, ini alasannya
  1. Home
  2. »
  3. Serius
11 April 2026 09:10

Pesan parenting ibu Nadiem Makarim “Perempuan jangan pikirin menikah sebelum 30 tahun”, ini alasannya

Atika Algadrie mengakui bahwa pandangannya memang berbeda dari kebanyakan orang. Agustin Wahyuningsih
Parenting Atika Algadrie | foto: Instagram/@rayyamakarim

Brilio.net - Dalam sebuah bincang-bincang mendalam bersama Grace Thahir, Atika Algadrie, ibu dari Nadiem Makarim, membagikan perspektifnya yang cukup kontras dengan pandangan umum masyarakat Indonesia mengenai peran perempuan dan pernikahan.

Sebagaimana diketahui dalam masyarakat Indonesia, masih banyak anggapan bahwa perempuan memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dan bahkan tidak boleh melebihi tugas dan fungsi laki-laki. Masih ada pandangan laki-laki harus berprestasi mengepakkan sayap di luar rumah, sedangkan perempuan cukup mengurus rumah dan keluarga. Atika dengan tegas menyatakan tidak memiliki pandangan yang sama dengan pemikiran pembedaan gender laki-laki dan perempuan ini.

BACA JUGA :
Hakim tolak praperadilan Nadiem Makarim, status tersangka tetap sah


Atika mengakui bahwa dirinya lahir dan tumbuh dari lingkungan keluarga Arab yang modern. Namun ia tidak memungkiri masih ada pengaruh tradisi tertentu dalam memandang perbedaan gender, termasuk misalnya penggunaan nama keluarga.

"Ada lah, kalau urusan laki nih pasti ada sedikit. Nih urusan nama, which I don’t understand why. Karena perempuan juga memakai nama, gitu maksudnya. Kenapa mesti lakinya saja yang diambil namanya? That tradition or concept, I don’t understand," ujar Atika berpendapat mengenai keheranannya terhadap tradisi yang mengutamakan garis laki-laki dalam penamaan, dilansir brilio.net dari YouTube Grace Tahir, Sabtu (11/4/2026).

Menolak Standar Ganda dalam Pola Asuh

BACA JUGA :
Hotman Paris sebut Nadiem Makarim tak terima uang korupsi, Kejagung: Ada unsur perkaya pihak lain

Parenting Atika Algadrie
foto: Instagram/@rayyamakarim

Meski menyadari adanya perbedaan perlakuan di lingkungan sosial, Atika menegaskan bahwa dalam mendidik ketiga anaknya, ia tidak pernah membedakan harapan berdasarkan gender. Baginya, kecerdasan dan kemampuan bukan hanya milik laki-laki saja.

"Jadi saya tidak mengerti. I mean, saya datang dari keluarga yang cukup modern untuk keluarga keturunan Arab, gitu. Tapi tetap saja ada segi itu tuh, segi (baca: pembedaan) laki-perempuan, ada gitu. Nah itu yang... tapi somehow saya tuh waktu saya mulai punya anak, saya tidak pernah merasakan bahwa ini mesti beda-beda, atau harapannya juga beda. 'Okok anak perempuan biarin deh dia bodo-bodo dikit nggak apa-apa, lakinya yang mesti pinter misalnya', nggak pernah ada itu," tuturnya kepada Grace Tahir.

Dilarang Pikirkan Pernikahan Sebelum Usia 30

Parenting Atika Algadrie
foto: YouTube/Grace Tahir

Selain tidak membeda-bedakan fungsi, hak, dan kewajiban anak berdasarkan gender, salah satu poin paling menarik dari gaya pengasuhan Atika adalah nasihatnya yang tegas mengenai usia pernikahan. Ia secara konsisten menanamkan kepada anak-anaknya, Nadiem Makariem, Rayya Makarim, dan Hana Makarim, bahwa prioritas utama seorang perempuan adalah pembentukan diri dan karier sebelum memutuskan untuk hidup bersama pasangan.

“… Kadang-kadang oleh teman-teman saya dianggap, 'Duh lo gila deh Tik,' suka gitu teman-teman saya. Saya selalu bilang sama anak dua ini, termasuk sama Nadin later on, nggak boleh mikirin kawin sebelum umur 30," ungkap Atika mengenai prinsipnya.

Ia menambahkan alasan di balik aturan tersebut dengan sangat lugas.

"Karena anak perempuan, terutama, dia musti membentuk dirinya sendiri, membentuk kariernya, dia tahu siapa dirinya sepenuhnya baru dah dia punya partner untuk hidup bersama-sama. Menurut saya seperti itu,” tegasnya menjelaskan.

Makna Pernikahan Menurut Atika Algadrie

Parenting Atika Algadrie
foto: Instagram/@rayyamakarim

Prinsip ini terbukti dijalankan oleh anak-anaknya. Hana Makarim mengonfirmasi bahwa ia menikah tepat di usia 30 tahun. Sedangkan Nadiem diperkirakan menikah di usia lebih dari 30 tahun.

Bagi Atika, pernikahan bukan sekadar status, melainkan kemampuan untuk berbagi ruang dan hidup bersama dengan segala dinamikanya.

"Pokoknya soal kawin ini untuk saya bukan it's not a big thing," tegasnya. Ia mengakui bahwa pandangannya memang berbeda dari kebanyakan orang.

Bagi Atika, esensi dari sebuah hubungan setelah fase jatuh cinta adalah realitas kehidupan sehari-hari.

"It's about being able to live together properly dengan segala macam kesusahannya, kesenangannya, dan kesusahannya ya. Tapi it's about living together in one space," pungkasnya.

Pandangan ibunda Nadiem menegaskan bahwa seseorang, terutama perempuan, harus membentuk diri sendiri agar punya bekal dan value diri ketika menikah. Dengan demikian, ketika menikah dan harus berbagi hidup dengan pasangan, perempuan bisa beradaptasi dan bertanggung jawab sepenuhnya menjalani rumah tangga.

SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags