Brilio.net - Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, memberikan tanggapan terkait lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein. Lagu berjudul "Lalaki Langit Lalanang Jagat" tersebut dinilai memuat lirik yang merendahkan perempuan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Atalia membagikan ulang unggahan video dari salah satu warganet dengan akun @arinijoeseof yang turut mengkritik lagu tersebut. Dalam repost tersebut, terdapat penjelasan mengenai asal-usul lagu yang disebut sudah dibuat sejak Januari 2026, namun baru ramai dibicarakan belakangan ini.

lagu Bupati Purwakarta © 2026

lagu Bupati Purwakarta
© 2026 /Instagram @ataliapr; Instagram @arinijoeseof

Dalam unggahan yang dibagikan Atalia, disebutkan konteks kemunculan lagu tersebut berkaitan dengan acara adat di wilayah Purwakarta.

"Waktu acara Hajat Bumi di Linggamurti Purwakarta, Bupati Binzen ini bilang, 'Ya ayo lestarikan bahasa Sunda karena bahasa Sunda tuh bahasa ibu. Hao hakeng kita pertama tuh bahasa Sunda gitu ya.' Emang kalau misalkan kita ingat-ingat lagi ke belakang gitu ya, pemimpin-pemimpin kita ini suka banget melekatkan identitas kesundaannya, tak terkecuali Binzen. Sebenarnya enggak baru sih, dia itu nulis lagu 'Lalaki Langit Lalanang Jagat' tuh dari Januari. Cuman memang karena enggak tenar, somehow jadi enggak banyak yang tahu aja,” ujar pemilik akun Instagram @arinijoeseof dikutip brilio.net, Rabu (1/7/2026).

lagu Bupati Purwakarta © 2026

lagu Bupati Purwakarta
© 2026 /Instagram @ataliapr; Instagram @arinijoeseof

Isi Lirik yang Menjadi Sorotan

lagu Bupati Purwakarta © 2026

lagu Bupati Purwakarta
© 2026 /TikTok/@omzein_bupatiaing

Dalam unggahan tersebut, dijabarkan pula sejumlah bagian lirik lagu yang dianggap bermasalah karena membandingkan kondisi biologis perempuan dengan nada bercanda.

"Terima kasih Tuhan telah menciptakanku sebagai laki-laki, sebab kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3 aku udah keguguran 7 kali. Makasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar dari payudara. Terima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan,” ujar wanita dengan akun @arinijoeseof saat menerjemahkan lirik lagu bahasa Sunda tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Lirik tersebut menyinggung sejumlah topik terkait kondisi biologis perempuan, di antaranya keguguran, penggunaan pakaian dalam, hingga siklus menstruasi.

lagu Bupati Purwakarta © 2026

lagu Bupati Purwakarta
© 2026 /Instagram @ataliapr; Instagram @arinijoeseof

Dalam unggahan itu turut dipertanyakan alasan pemilihan tema lirik semacam itu, sekaligus dikaitkan dengan data kekerasan terhadap perempuan di wilayah Purwakarta.

"Kalau misalkan kita lihat, lagu itu merupakan bentuk syukur seseorang telah sebagai laki-laki. Tapi, kemudian? Apakah layak kita menuturkan syukur kepada sesuatu yang adiluhung, kepada sesuatu yang kita agung-agungkan, dengan konstruksi lirik yang superior habis? Dan kenapa menstruasi, beli kutang, reproduksi, kehamilan, itu dijadikan olok-olok? Ironisnya, di Purwakarta sendiri kita tahu banyak pesantren-pesantren yang ustaz atau kiai-nya melecehkan santri-santrinya. Di 2024 tuh masih ada 122 kekerasan terhadap perempuan. Kamu tuh pejabat daerah. Di daerahmu tuh masih banyak anak-anak perempuan yang diperkosa sampai hamil dan berupaya untuk hidup, berjuang habis-habisan melawan trauma. Dan kamu milih merilis lagu seperti itu? Jangan bawa-bawa identitas kesundaan, jangan bawa-bawa budaya kesundaan kalau misalkan kamu cuma ingin mengolok-olok perempuan. Karena sebagai perempuan aku merasa tak aman, sebagai orang Sunda aku merasa dipermalukan,” tegas @arinijoeseof.

Pernyataan Langsung Atalia Praratya

Selain membagikan ulang unggahan @arinijoeseof, Atalia turut menuliskan pandangan pribadinya sebagai keterangan pada unggahan tersebut. Ia menyampaikan tidak menemukan sisi lain dari lirik lagu itu selain nada yang dianggap merendahkan perempuan.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan. Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" demikian caption Atalia, dikutip dari Instagram @ataliapr.

Mantan istri Ridwan Kamil itu turut mengaitkan lirik lagu tersebut dengan nilai-nilai budaya Sunda yang selama ini dikenal menjunjung sikap saling menghargai.

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan. Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?.. Bagaimana menurut kalian?" lanjut Atalia.

Atalia menutup unggahannya dengan menandatangani status tersebut sebagai "Atalia Praratya, Saya perempuan."

Latar Belakang Kritik dari Anggota Komisi VIII DPR

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan sosial dan pemberdayaan perempuan, Atalia menyampaikan kritiknya terhadap lagu yang dibuat oleh kepala daerah tersebut. Ia mempertanyakan pemilihan tema lirik yang menyinggung kondisi biologis perempuan sebagai bahan perbandingan dalam lagu itu.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Bupati Purwakarta terkait kritik yang disampaikan Atalia maupun sejumlah warganet lainnya.