Brilio.net - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 di Universitas Diponegoro (Undip) diwarnai aksi kecurangan. Seorang peserta perempuan berinisial M gagal mengikuti ujian setelah kedapatan menyembunyikan perangkat elektronik di dalam pakaian dan telinganya pada Selasa (21/4/2026).

Pihak keamanan kampus berhasil mengidentifikasi adanya benda asing saat melakukan pemeriksaan rutin menggunakan alat pendeteksi logam (metal detector) sebelum peserta memasuki ruang ujian. Berdasarkan pemeriksaan, ditemukan perangkat komunikasi sejenis kabel handsfree dan alat elektronik kecil yang ditempatkan di lubang telinga.

"Jadi peserta kita skrining metal detektor sebelum ujian, ada satu peserta perempuan yang terdeteksi pakai itu alat bantu dengar elektronik pada hari pertama tes," terang Wakil Rektor I Undip, Heru Susanto pada Selasa (21/4) dikutip brilio.net dari merdeka.com, Rabu (22/4/2026).

Prosedur Medis dan Penyerahan ke Pihak Berwajib

Lantaran alat bantu tersebut diletakkan cukup dalam di bagian telinga, panitia harus mengambil tindakan medis untuk mencegah risiko cedera pada peserta. Heru Susanto menjelaskan bahwa langkah evakuasi alat dilakukan secara hati-hati. Peserta tersebut pun dibawa ke klinik THT rumah sakit kampus.

Setelah alat berhasil dikeluarkan, peserta tersebut langsung dibawa ke Polsek Tembalang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sesuai dengan protokol penanganan pelanggaran ujian yang berlaku di universitas.

Himbauan Integritas dan Sanksi Akademik

Meskipun kasus ini melibatkan pihak kepolisian, status hukum M berakhir pada proses pembinaan. Mengingat yang bersangkutan belum sempat mengerjakan soal ujian, pihak kepolisian memutuskan untuk mengembalikan M kepada pihak keluarga. Namun, dari sisi akademik, laporan kecurangan ini tetap diteruskan ke tingkat nasional.

"Jadi Undip hanya melaporkan kepada panitia pusat nasional bahwa telah terjadi seperti ini di hari pertama," jelas Heru, dikutip dari merdeka.com.

Pihak universitas sangat menyayangkan kejadian ini masih terjadi di tengah upaya membangun sistem seleksi yang transparan. Peserta diharapkan memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan pribadi tanpa harus menempuh cara-cara ilegal yang justru menghancurkan masa depan akademik.

"Kami prihatin sampai saat ini masih ada praktik-praktik yang tidak baik seperti ini. Kami berharap, teman-teman yang ikut ujian percayalah pada diri kalian," ujar Heru.